Rusa di Nusa Tenggara Barat khususnya P. Lombok merupakan jenis rusa timor (Rusa timorensis) dari sub genus Rusa timorensis floresiensis Heude, 1896 (Wilson and Reeder, 2005). Populasi alamnya yang cenderung mengalami penurunan menjadikan satwa ini dinilai dari berstatus lower risk tahun 1998 menjadi vurnerable pada penilaian tahun 2008 (IUCN, 2008).

Rusa Timor (Rusa timorensis) merupakan mamalia asli Prop. NTB yang tersebar di P. Lombok maupun P. Sumbawa, selain jawa dan Bali, Timor, Sulawesi dan Maluku. Masyarakat menyukai daging rusa untuk dikonsumsi sehingga terjadi perburuan yang mengakibatkan populasinya menurun drastis. Di tempat lain, mungkin sejumlah satwa liar antara lain anjing hutan, harimau, macan tutul dan komodo merupakan  predator alami, namun  di P. Lombok predator alam di atas trofik rusa tidak ada, perburuan oleh manusia adalah ancaman yang utama populasi.

Di kawasan TNGR sendiri populasi satwa jenis ini diyakini sudah banyak mengalami penurunan. Monitoring rutin untuk mengetahui angka pasti jumlah populasi sama sekali belum pernah dikerjakan pengelola karena beberapa keterbatasan. Akan tetapi indikator-indikator bahwa jenis ini mengalami penurunan diyakini berdasarkan pengamatan visual yang menyebutkan bahwa individu atau kelompok rusa sudah jarang terlihat atau bahkan tidak pernah sama sekali di lokasi-lokasi yang sebelumnya merupakan habitat rusa.

Perilaku dinamis rusa dengan membentuk populasi baru ditempat lain tersebut mungkin berdekatan atau bisa merupakan metapopulasi yang terpisah yang tidak memungkinkan adanya interaksi populasi baru (populasi satelit) dengan populasi sebelumnya (populasi inti). Identifikasi metapopulasi menjadi penting untuk menentukan pengelolaan satwa ini untuk menghindari kepunahan populasi satelit seperti pengaturan kesesuaian habitat maupun restocking untuk menghubungkan metapopulasi yang terfragmentasi. Dua hal yang dapat terjadi pada populasi satelit adalah hilangnya populasi ketika keadaan habitat tidak menguntungkan atau terbentuk kembali menjadi populasi besar ketika habitat menguntungkan dan ketika kolonisasi terjadi kembali oleh individu-individu yang keluar dari populasi inti. Identifikasi metapopulasi dan penghalang metapopulasi dikerjakan untuk menghindari kemungkinan terburuk pertama. Sayangnya kegiatan ini belum pernah dilakukan dan hal ini merupakan topik yang menarik untuk diteliti. Akan sangat disayangkan bila satwa endemik sub spesies ini hilang dengan sendirinya seperti halnya Kakatua Jambul Kuning (Cacatua shulphurea parvula) dan hanya bisa kita pandang dari logo propinsi NTB, kabupaten-kabupaten di sini atau logo TNGR sendiri. Ironic!