Pembangunan pariwisata saat ini berkembang kearah pariwisata alam, slogan back to nature terasa begitu melekat di setiap telinga kita. Merunut jiwa kita ke masa lalu yang menurut cerita begitu indah, himpitan suasana kerja dan kota yang begitu menguras energi dan pikiran mendesak adanya pemenuhan kebutuhan jiwa untuk sejenak istirahat dan menghirup udara segar.

Seiring dengan pesatnya perkembangan pariwisata alam dewasa ini yang cendrung berubah/bergerak dari mass tourism menjadi wisata dalam kelompok kecil bahkan individual, begitu juga pergeseran permintaan wisata yang dulunya lebih ke tempat-tempat yang ramai yang sat ini pasar wisata cendrung lebih banyak memilih utuk melakukan wisata alam (ecotourism). Akibat hal ini, lingkungan menjadi terpengaruh, betapa tidak, saat ini Sampah menjadi sebuah momok yang menakutkan di setiap kawasan atau tempat-tempat umum di Negara tercinta ini. Bahkan hutan yang konon katanya masih alami, angker dan yang jauh dari pemukimanpun tidak lepas dari hal yang satu ini.

Ya… sampah kalau yang organik mungkin hanya membuat polusi udara dan mengurangi nilai estetika suatu kawasan, namun yang non organik akan menjadi masalah yang besar karena sampah jenis ini tidak dapat diuraikan oleh makhluk pengurai yang ada, bahkan dapat menjadi biang penyakit karena mampu menampung air, bahkan dapat membuat satwa liar di dalam kawasan menjadi berubah pola makannya dan cendrung ikut memakan makanan manusia, yang imbasnya mereka menjadi tidak terkendali, mencuri / mengambil tas pengunjung bahkan sakit dan terganggu…jadi tidaklah mengherankan jika sampah plastik yang bertebaran di kawasan wisata menjadi ancaman yang serius bagi kondisi, nilai estetika dan ekosistem hutan.

Sangat disayangkan kawasan Rinjani yang begitu indah dan merupakan puncak tertinggi ke 3 (tiga) di Indonesia dikotori dan berkurang kesan indahnya hanya oleh perilaku yang tidak bertanggung jawab oleh sebahagian pengunjung. Lebih dari 90% tamu mancanegara mengagumi keindahan Rinjani dan merasa puas setelah melakukan kunjungan, namun 100% dari mereka mengeluhkan sampah yang banyak dijumpai di sepanjang jalur wisata dan di camping area.

Beberapa waktu yang lalu sejumlah 50 orang siswa dari international school Singapura di dampingi 50 orang porter dari senaru dan sembalun serta Staff Taman Nasional Gunung Rinjani melakukan pembersihan (clean up) jalur pendakian ke Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, dan hasilnya cukup mencengangkan, betapa tidak, mereka berhasil mengumpulkan 2 ton sampah dan yang lebih mencengangkan lagi 75% sampah tersebut adalah berupa botol/tabung gas bekas yang mengindikasikan bahwa penyebabnya adalah orang-orang yang terpelajar dan mengetahui seluk-beluk penggunaan gas, yah…gak mungkin kan kalau sampah tersebut dibawa oleh amaq-amaq (bapak-bapak) dari sekitar Rinjani yang datang berobat atau sekedar mancing ikan di Danau Segara Anak???

Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk saling menyalahkan dan menunjuk atau mencari siapa pelakunya, tapi kini adalah saat yang tepat untuk kita semua mengintrospeksi diri, baik itu pengelola kawasan dalam hal ini Balai Taman Nasional Gunung Rinjani maupun stake holder terkait, pengunjung dan masyarakat secara luas.

Dalam pengembangan pariwisata alam dikenal beberapa konsep, diantaranya konsep market driven, yaitu konsep yang lebih menitikberatkan pada keinginan wisatawan dan perilaku pasar sebagi landasan pengembangannya, dan konsep produk driven yaitu konsep yang lebih menitikberatkan pada pengembangan produk wisata. Konsep market driven sangat tepat untuk wisata alam yang santai, bersenang-senang, atau leisure travelers, namun saat ini wisatawan mengharapkan kepuasan dan kenikmatan yang tidak hanya diukur dari kesenangan tapi juga pengalaman selama perjalanan.(Mill and Morrison,1985). Salah satu tolak ukur dari kepuasan mereka adalah kondisi kebersihan dan kenyamanan kawasan. Betapa tidak kawasan wisata yang indah akan tidak berarti bagi pengunjung bila kawasan tersebut kotor, karena dapat mengganggu pemandangan (mengurangi keindahan) juga menyebabkan polusi udara dan penyakit bagi pengunjung. Jadi dengan konsep market driven ataupun produk driven diharapkan objek wisata alam di TNGR harus terjaga kebersihannya.

Untuk itu saat ini menjadi tantangan yang berat bagi pengelola pariwisata dalam hal ini Taman Nasional Gunung Rinjani, untuk lebih memaksimalkan kepuasan dan pengalaman yang dapat diperoleh oleh pengunjung selama melakukan kunjungan ke kawasan Wisata Alam di Taman Nasional Gunung Rinjani, terutama masalah sampah. Dalam hal ini pihak Taman Nasional Gunung Rinjani harus lebih memperhatikan pengawasan dan pengelolaan pengunjung dengan manajemen yang lebih bagus, hal ini telah mulai dirintis dengan pengelolaan pariwisata dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan sehingga masyarakat lebih dapat berperan aktif dan kesejahteraannya dapat meningkat, demikian juga harus mulai diterpakan pola pack-in dan pack-out sehingga sampah yang dibawa oleh pengunjug dapat dimonitor dengan baik.

Selain itu, pihak Badan Pembina Trecking Rinjanipun harus lebih pro-aktif untuk melakukan kegiatan peningkatan kesadaran pengunjung sehingga dapat mengurangi beban pihak pengelola, sedangkan pihak Pemerintah Daerah harus lebih memperhatikan dan turut serta dalam menangulangi masalah ini, toh dari Objek wisata ini Pemda akan mendapat devisa untuk menambah PADnya dan secara tidak langsung mengurangi beban Pemda dimana masyarakat memperoleh lapangan kerja.

Banyak potensi masyarakat disekitar kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani yang dapat dikelola dan diarahkan menjadi mitra dalam mengelola kawasan oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani diantaranya adalah KMPH Jeruk Manis. Kelompok Masyarakat Peduli Hutan Jeruk Manis yang di bentuk akhir tahun 2004 Merupakan Kelompok yang membantu pelaksanaan tugas para staff Taman Nasional Gunung Rinjani khususnya Resort Kembang kuning dalam pengelolaan Objek Wisata Air Terjun jeruk Manis, selain itu untuk wisata trekking ke puncak Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak ada kelompok Porter dan Guide baik dari Senaru maupun Sembalun, yang seharusnya dapat berperan lebih baik dalam menjaga kebersihan kawasan wisata, mengurangi tekanan/ kejahatan kehutanan (illegal logging, kebakaran hutan, perburuan satwa), gangguan terhadap pengunjung ODTWA dan pendekatan/sosialisasi program Taman Nasional Gunung Rinjani kepada Masyarakat maupun kegiatan pengelolaan pariwisata alam lainnya.

Potensi Rinjani yang begitu tinggi akan sangat sayang kalau hilang hanya karena sampah dan ulah segelintir pengunjung, Maka saat ini mari kita manfaatkan potensi yang ada, mari kita mulai dari diri sendiri dan mencoba bersama-sama mengajak teman, saudara bahkan setiap orang yang kita temui untuk berbenah dan berhenti untuk mengotori kawasan pariwisata Gunung Rinjani dari sampah, vandalisme dan apaun yang merusak keindahan Rinjani (by Faisal MY).