Mushrooms atau jamur, merupakan sumberdaya alam hayati yang penting dalam kehidupan manusia. Secara ekologi, jamur memegang peranan nyata pada peristiwa-peristiwa ekologis seperti asosiasinya dengan hutan tua dalam siklus nutrisi, jaring-jaring makanan serta secara nyata mempengaruhi kelangsungan hidup perkecambahan anakan-anakan pohon, pertumbuhan pohon dan keseluruhan kesehatan hutan. Jadi jamur adalah indikator penting komunitas hutan yang dinamis (Molina et al, 2001).

Di beberapa belahan dunia, pemanfaatan jamur telah menjadi semakin meluas sejalan dengan semakin gencarnya penelitian mengenai peran jamur dalam dunia kesehatan (bahan fitofarmaka). Beberapa penelitian membenarkan bahwa spesies-spesies  jamur tertentu ampuh untuk menekan penyakit ganas kanker seperti jamur shiitake (Lentinus edulis) dan jamur maitake (Grifola frondosa). Spesies lain seperti jamur tiram (Pleurotus ostreatus) menurut salah satu penelitian dapat merehabilitasi beberapa penyakit kronis. Spesies jamur tertentu dicari karena memiliki efek halusinogenik (jika dimakan atau dihisap seperti rokok dapat menyebabkan halusinasi atau efek fly seperti halnya pengguna narkoba (jamur spesies Psilocybe spp.) (Anonim, 2005).

Di beberapa belahan dunia, regenerasi jamur liar memberikan kontribusi ekonomi yang cukup nyata pada masyarakat sekitar hutan. Spesies-spesies jamur tertentu dipanen dari hutan kemudian dijual ke pasaran yang menghasilkan sejumlah uang. Beberapa spesies jamur tertentu banyak dipasarkan di supermarket-supermarket dengan harga yang layak secara kontinyu sebab sudah dibuat rumah produksinya. Jamur merupakan hasil hutan non kayu yang prospektif secara ekonomi.

Kawasan hutan Gunung Rinjani meliputi 26,5% dari luas daratan P. Lombok. Kawasan hutan Gunung Rinjani juga merupakan kawasan hutan terluas atau sekitar 86,11% dari luas keseluruhan hutan P. Lombok (BTNGR, 1997). Kawasan hutan Gunung Rinjani seluas 125.740 ha terdiri atas beberapa fungsi kawasan, termasuk di dalamnya sekitar 41.330 ha kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Ekosistem kawasan hutan TNGR tergolong masih utuh dan sekitar 40% atasnya merupakan hutan primer tua. Dengan kondisi tersebut ratusan spesies jamur tumbuh subur sepanjang tahunnya. Penelitian mengenai jamur khususnya kawasan TNGR belum banyak dilakukan.

Eksplorasi jamur kawasan TNGR dikerjakan pada pada tahun 2007 (bulan April, Juni, November, Desember), tahun 2008 (bulan Februari, April, Mei), tahun 2009 (bulan Maret, April, Juli) dan tahun 2010 (bulan Maret, Mei, Agustus) dengan tiga kawasan sebagai lokasi pengambilan tetap sampling yakni kawasan Senaru, Pesuguluan dan Aik Berik. Kawasan lain seperti Sembalun dan Torean dilakukan pengamatan secara visual sebagai pembanding, ketika ada jenis baru kemudian didokumentasikan.

Teknik koleksi yang dikerjakan menggunakan panduan dari Iliffe (BMS, 2006) dan Kuo (2006a). Identifikasi dan pengelompokkan takson menggunakan beberapa buku panduan identifikasi jamur dari Hall et al (2003), Keizer (1998), Lamaison et al (2005), Pacioni (1981), Polese (2005) serta panduan versi elektronik (website) dari para ahli mikologi dunia yakni Kuo (www.mushroomsexpert.com),Volk (www.TomVolkFungi.com), dan Wood (www .mykoweb.com).

Koleksi jamur yang dikerjakan pada dasarnya mengambil sampel jamur yang menunjukkan semua tahapan pertumbuhan. Ini penting untuk proses penamaan. Kemudian mencatat informasi ekologis yang berkaitan dengan spesies yang ditemukan seperti lokasi ditemukan, substrat, tipe vegetasi (vegetasi dominan atau pohon-pohon dengan tinggi diatas 20 m, atau karakter khusus tertentu) dan ketinggian tempat. Identifikasi kemudian dilakukan berdasarkan ciri-ciri makroskopis tubuh buah, koloni jamur, warna dan cetakan spora (jika memungkinkan). Kemudian dibuat detail foto spesimen yang didapatkan, terutama kenampakan tubuh buah termasuk tudung, gill, tube atau pori-pori, batang dan bentuk ujung batang serta ciri-ciri yang melekat pada specimen. Foto harus diusahakan mendapatkan spesimen yang utuh (Rianto, 2011).