Kebun Anggrek Joben merupakan bagian dari Pusat Kegiatan Konservasi (Conservation Centre) Otak Kokok Joben. Berada didalam kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang berbatasan langsung dengan sawah dan kebun masyarakat yang didalamnya terdapat obyek wisata alam yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat bahkan Nasional dan Internasional yaitu Obyek wisata Pemandian Otak Kokok Gading.

Secara administratif areal tersebut berada di Desa Pesanggrahan dan Desa Pringga Jurang Utara, Kec. Montong Gading, Kab. Lombok Timur. Keseluruhan areal Pusat Kegiatan Konservasi Otak Kokok Gading ini memiliki luas +20 ha, yang didalamnya sudah ditanami ± 75 jenis tumbuhan sebagai koleksi jenis-jenis tumbuhan (kebanyakan berhabitus pohon) yang ada di TNGR, yang secara perlahan – lahan terus ditambah jenis-jenisnya sampai mewakili seluruh jenis tumbuhan TNGR. Khusus jenis anggrek sendiri terdapat sekitar 56 jenis anggrek (Orchidaceae) termasuk jenis anggrek tanah maupun epifit.

Tujuan Kebun Anggrek Joben didirikan dengan maksud pengawetan jenis dalam kondisi yang terkontrol, pembinaan populasi anggrek yang diketahui melalui studi pertumbuhan dan perkembangbiakannya secara in vitro sehingga memungkinkan back up populasi di alamnya. Pada kenyataannya dari hasil inventarisasi dan monitoring, beberapa jenis anggrek populasi di TNGR telah mengalami penurunan disebabkan karena pengambilan untuk diperjualbelikan, kerusakan habitat karena penebangan liar dan sebab lain yang mengakibatkan populasi di alam tidak bisa berkembang. Untuk mencegah kepunahan jenis tersebut, koleksi jenis-jenis anggrek didatangkan dari seluruh kawasan TNGR dari berbagai tipe habitat dan ekosistem. Pada tingkat keberhasilan pengembangan populasi tertentu akan dilibatkan masyarakat sebagai bentuk transfer ilmu budidaya anggrek berdasarkan pengalaman, serta restocking untuk mengembalikan populasi di alam.

Kebun Anggrek Joben menempati bangunan permanen. Penataan area berdasarkan keturunan F1 dan F2 untuk memudahkan pengelolaan. Perbanyakan jenis masih menggunakan cara konvensional yaitu perbanyakan vegetatif. Media tanam yang dipergunakan akar Kadaka (Asplenium nidus), jenis paku-pakuan yang diambil dari dalam kawasan. Kedepannya bila memungkinkan sumberdaya pengelolanya akan dikerjakan secara kultur jaringan untuk tujuan konservasi yang lebih luas.